MALILI, Koranta.id — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid As-Syuhada 45, Puncak Indah Malili, Kamis ba’da Ashar (4/9/2026). Ratusan jamaah memadati masjid untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar penuh hikmah dan semangat kebersamaan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bangkit Revormansyah. Kehadirannya disambut hangat oleh pengurus masjid dan masyarakat sekitar. Peringatan Maulid ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahim sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat Malili.
Acara diawali dengan pembacaan shalawat, lantunan ayat suci Al-Qur’an, hingga tausiah agama. Sebagai penceramah, hadir H. KM. Amal Hamzah, S.E. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan menyentuh, beliau berhasil menghidupkan suasana dan menggugah hati para jamaah yang hadir.
Dalam tausiahnya, H. KM. Amal Hamzah menekankan urgensi meneladani Rasulullah SAW sebagai pemimpin. Ia menyampaikan bahwa sifat kepemimpinan tidak hanya berlaku untuk pemimpin bangsa dan negara, tetapi dimulai dari hal paling dasar, yaitu menjadi pemimpin untuk diri sendiri dan keluarga.
“Menjadi pemimpin itu berat. Dimulai dari memimpin hawa nafsu kita, memimpin rumah tangga dengan adil dan kasih sayang, hingga memimpin masyarakat dan negara dengan amanah. Itulah cerminan akhlak Nabi,” ujar penceramah di hadapan jamaah.
Pesan-pesan tersebut mendapat perhatian serius dari para hadirin. Banyak di antara jamaah yang mengangguk dan mencatat poin penting dari materi yang disampaikan. Nuansa peringatan Maulid terasa bukan hanya seremonial, tetapi juga menjadi ruang refleksi diri.
Dalam kesempatan itu, Bangkit Revormansyah juga menyampaikan pesan kepada masyarakat. Ia mengajak seluruh jamaah untuk mengambil hikmah dari peringatan Maulid tahun ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita semua diundang untuk meneladani akhlak Rasulullah. Bagaimana beliau bersikap lembut dalam rumah tangga, jujur dalam berdagang, dan bijaksana dalam bermasyarakat. Mari kita jadikan itu sebagai pedoman,” pesan Bangkit.
Ia juga menegaskan bahwa peringatan Maulid bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, peringatan ini harus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kenabian seperti kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman sekarang, baik di lingkup keluarga maupun di ruang publik.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Warga tampak antusias berdiskusi usai acara. Dengan semangat Maulid, diharapkan masyarakat Puncak Indah Malili semakin kokoh dalam iman, semakin harmonis dalam sosial, dan semakin meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam setiap langkah kehidupan.(Red)












