MAKASSAR, http://Koranta.id — Anggapan bahwa aktif berorganisasi akan membuat kuliah tersendat masih sering terdengar di kampus. Namun bagi Muhammad Fauzy Arief, Ketua ASHESI (Asosiasi Studi Hukum Ekonomi Syariah se-Indonesia) Wilayah VIII Kawasan Timur Indonesia, pandangan itu perlu diluruskan.
Menurutnya, organisasi bukanlah penghalang penyelesaian akademik. Justru sebaliknya, organisasi adalah ruang belajar kedua yang menempa mahasiswa menjadi pribadi yang utuh, berilmu, sekaligus berkarakter.
“Menjadi aktif di organisasi bukanlah alasan untuk mengabaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Sebaliknya, organisasi merupakan ruang belajar yang memperkaya pengalaman di luar bangku perkuliahan,” ujar Fauzy.
Di dalam organisasi, kata Fauzy, mahasiswa tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka ditempa langsung melalui praktik. Jiwa kepemimpinan, manajemen waktu, komunikasi efektif, kerja sama tim, pola pikir kritis, hingga kemampuan menyelesaikan masalah, semuanya diasah di sana.
Kemampuan-kemampuan tersebut, lanjutnya, tidak selalu bisa diperoleh secara utuh di dalam kelas. Dosen bisa mengajarkan teori, tetapi organisasi memberikan laboratorium nyata untuk menguji teori itu dalam dinamika manusia.
“Di organisasi kita belajar bahwa setiap amanah harus dipertanggungjawabkan, setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan setiap tantangan harus dihadapi dengan keberanian serta kebijaksanaan,” jelasnya.
Masih banyak yang percaya bahwa mahasiswa organisasi akan sulit lulus tepat waktu. Fauzy menilai mitos itu tidak sepenuhnya benar. Penentunya bukan seberapa banyak organisasi yang diikuti, melainkan bagaimana mahasiswa menetapkan prioritas dan menjaga komitmen.
“Organisasi memang menghadirkan berbagai tanggung jawab dan amanah, tetapi justru melalui proses itulah mahasiswa belajar arti disiplin, konsistensi, serta tanggung jawab terhadap setiap keputusan yang diambil,” katanya.
Bagi Fauzy, buktinya nyata. Ia sendiri berhasil menyelesaikan seminar proposal di tengah padatnya agenda sebagai Ketua Wilayah ASHESI VIII KTI. Baginya, akademik dan organisasi bukan dua kutub yang bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan dengan kesungguhan, perencanaan matang, dan kemauan untuk terus berkembang.
“Tidak ada keberhasilan yang diraih secara instan. Di balik setiap pencapaian ada proses panjang yang dipenuhi perjuangan, pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, serta kemampuan untuk tetap fokus pada tujuan,” ujarnya.
Fauzy memandang dunia akademik membentuk cara berpikir yang sistematis, analitis, dan berbasis ilmu pengetahuan. Sementara organisasi membentuk cara bersikap, beradaptasi, dan melayani. Ketika keduanya dipadukan, lahirlah mahasiswa yang tidak hanya unggul secara nilai, tetapi juga mampu menerapkan ilmunya di tengah masyarakat.
Lebih dari itu, organisasi menjadi tempat membangun jejaring. Di sana mahasiswa belajar menyampaikan gagasan secara santun, menerima perbedaan pendapat dengan dewasa, menyelesaikan konflik lewat musyawarah, dan bekerja sama demi tujuan bersama.
“Pengalaman seperti inilah yang menjadi bekal penting ketika memasuki dunia profesional maupun saat mengabdikan diri kepada masyarakat,” tegasnya.
Sebagai Ketua ASHESI Wilayah VIII yang membawahi kampus-kampus di Kawasan Timur Indonesia, Fauzy mendorong mahasiswa untuk tidak takut berorganisasi karena khawatir akademik terganggu.
“Oleh karena itu, sudah saatnya kita menghentikan anggapan bahwa organisasi merupakan penghambat penyelesaian akademik. Organisasi adalah wadah pembentukan karakter dan kepemimpinan, sedangkan akademik merupakan fondasi ilmu pengetahuan. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang utuh,” ujarnya.
Ia menekankan, mahasiswa hari ini tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual. Integritas, kemampuan memimpin, empati, adaptasi, dan tanggung jawab sosial sama pentingnya.
“Menjadi mahasiswa berarti mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa cepat seseorang menyelesaikan studi, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu memberikan manfaat bagi orang lain,” pungkas Fauzy.
Bagi Muhammad Fauzy Arief, mahasiswa terbaik bukan hanya yang wisuda tepat waktu. Mahasiswa terbaik adalah mereka yang meninggalkan jejak: melalui karya, kepemimpinan, dedikasi, dan pengabdian.
Dengan niat tulus, kerja keras, disiplin, dan kemampuan mengelola waktu, keseimbangan akademik dan organisasi bukan hal mustahil.
Dari keseimbangan itulah, harapannya, akan lahir generasi muda yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berkarakter, berintegritas, adaptif, dan siap memberi kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan negara.(Ib/Red)












