Polemik Kekaderan di “Anging Mamiri”: Saat Benih Tak Diberi Cahaya

  • Bagikan

MAKASSAR, Koranta.id — Di ruang kelas biologi, guru kita dulu pernah menyuruh menanam empat biji jagung dengan perlakuan berbeda. Ada yang dibiarkan begitu saja, ada yang hanya ditanam, ada yang ditanam dan disiram tapi dikurung gelap tanpa cahaya, dan ada yang dirawat seperti “malika”: diberi tanah, air, pupuk, dan sinar matahari penuh.

Hasilnya sudah bisa ditebak. Hanya sampel keempat yang tumbuh prima, berakar kuat, dan berbuah.

Analogi sederhana itu kini dipakai Muh Nur Iqwan Setiawan, Anggota Advokasi Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kota Makassar, untuk menyoroti kondisi kekaderan di “negeri anging mamiri”. Dalam tulisannya, ia menyebut perlakuan terhadap kader hari ini persis seperti eksperimen jagung itu. Dan ironisnya, banyak yang diperlakukan seperti sampel pertama dan ketiga. Dibiarkan, atau diberi makan tapi tidak diberi arah.

Pendekar dari rayon selatan ini ingin tumbuh. Dia dapat nutrisi dari tanah agar punya akar. Dia dapat mineral dari air agar bisa tumbuh. Tapi sang eksperimentator tidak memberikan cahaya, yaitu petunjuk, agar dia bisa berfotosintesis. Akibatnya benih ini tidak dapat melanjutkan hidupnya lagi,” tulis Iqwan.

Kisah itu bukan satu-satunya. Menurutnya, di hampir setiap rayon di Makassar pola yang sama terulang. Ada kader yang “diagung-agungkan” seperti anak emas, dirawat sepenuh hati. Sementara kader lain dibiarkan layu, bahkan ada yang diperlakukan sefatal sampel pertama: diletakkan begitu saja tanpa arah.

Padahal, di setiap kesempatan para “eksperimentator” ini kerap berteriak lantang soal keberlangsungan kader. Sering berdemo, sering berorasi, dan punya cita-cita besar tentang estafet kepemimpinan.

Tapi apa yang dilakukan jauh dari kata melanjutkan jenjang pengkaderan yang lebih tinggi. Terdengar seperti omong kosong. Mungkin ini yang disebut ucapan tidak sesuai perbuatan,” kritiknya.

Bagi Iqwan, persoalan ini bukan sekadar soal individu. Ini soal masa depan organisasi dan masa depan daerah. Ia menilai selama kader tidak diperlakukan utuh, maka tongkat estafet kepemimpinan yang berkelanjutan, berdaya, dan bermaslahat tidak akan pernah sampai.

Lihatlah geografis lain, mereka sudah menjemput era baru. Sedangkan negeri anging mamiri masih terpuruk dan berlarut-larut dalam konflik-konflik masa lalu yang sangat merugikan benih untuk tumbuh prima,” ujarnya.

Pertanyaan besarnya kemudian: bagaimana bisa bicara tentang Indonesia Emas 2045 jika benih-benih pemimpin hari ini justru terbelenggu oleh praktik yang tidak sehat?

Untuk menegaskan keresahannya, Iqwan mengutip Albert Einstein: “Jika kamu mengajari ikan bagaimana cara memanjat pohon, maka ikan itu akan bodoh seumur hidupnya.”

Maknanya sederhana. Jika kader masih diperlakukan seperti jagung sampel kedua atau ketiga, maka “era baru” hanyalah fatamorgana. Dan “Indonesia Emas” bisa berubah menjadi “Indonesia Cemas”.

Ia menutup tulisannya dengan penggalan lirik Iwan Fals dalam lagu Manusia Setengah Dewa : “Masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu. Peraturan yang sehat yang kami mau.”

Polemik kekaderan bukan barang baru di organisasi pelajar dan mahasiswa. Tapi ketika pola yang sama terus diulang, maka yang dirugikan bukan hanya satu dua orang “pendekar”. Yang dirugikan adalah regenerasi itu sendiri.

Sebuah organisasi besar tidak tumbuh karena satu dua kader yang dijadikan anak emas. Ia tumbuh karena semua benih diberi tanah yang subur, air yang cukup, dan cahaya yang adil.

Jika tidak, maka kita hanya sedang menanam jagung di dalam ruangan gelap. Tumbuh sebentar, lalu mati sebelum berbuah.

Kini pertanyaannya kembali ke para pengambil kebijakan di setiap rayon: mau jadi eksperimentator seperti apa? Yang hanya menuntut hasil, atau yang mau repot-repot menyalakan cahaya?(Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *