Prima Eyza Purnama Apresiasi Program Pejuang Subuh: Bukan Sekadar ke Masjid, Tapi Bangun Karakter Generasi

  • Bagikan

Luwu Timur, Koranta.id 14 September 2026 — Program “Pejuang Subuh” yang digagas Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, terus menuai dukungan dari berbagai kalangan. Salah satu apresiasi datang dari Anggota DPRD Kabupaten Luwu Timur, Hj. Prima Eyza Purnama. Menurutnya, program tersebut merupakan ikhtiar strategis dan visioner dalam membangun fondasi karakter generasi muda di Bumi Batara Guru.

Sebagai seorang praktisi pendidikan dasar, Prima Eyza menilai langkah Pemerintah Daerah ini sangat tepat. Ia menegaskan bahwa pembangunan sebuah daerah tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, dan gedung semata.

Pembangunan yang berkelanjutan harus diimbangi dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia, khususnya karakter anak sejak usia dini.

“Nilai penting dari Pejuang Subuh bukan semata-mata hadirnya anak-anak di masjid saat Subuh, tetapi pada proses membangun kebiasaan baik. Di sana mereka belajar disiplin, menghargai waktu, menumbuhkan kecintaan terhadap ibadah, dan belajar kebersamaan,” ujar Prima Eyza saat dimintai tanggapannya beberapa hari lalu.

Menurut legislator dari Fraksi tersebut, pembiasaan positif yang dilakukan secara konsisten di waktu Subuh akan memberikan dampak jangka panjang yang luar biasa. Anak-anak yang terbiasa bangun pagi, bergegas ke masjid, dan memulai hari dengan ibadah akan lebih mudah membentuk pribadi yang tangguh, bertanggung jawab, dan memiliki manajemen waktu yang baik, yang kelak sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan.

Meski memberikan dukungan penuh, Prima Eyza juga memberikan catatan penting agar pelaksanaan program di lapangan berjalan secara bijaksana dan humanis. Ia mengingatkan bahwa kondisi geografis Luwu Timur yang luas, dengan sebaran pemukiman yang berjauhan serta keterbatasan sarana pendukung bagi sebagian anak, perlu menjadi pertimbangan.

“Jangan sampai niat baik ini justru menjadi beban. Pendekatan harus adaptif, persuasif, dan penuh kasih sayang. Peran orang tua, guru, dan pengurus masjid harus bersinergi agar anak-anak merasa gembira dan termotivasi, bukan karena paksaan,” imbuhnya.

Ia berharap program Pejuang Subuh dapat menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya menjadi program pemerintah semata. Kolaborasi antara pemerintah, legislatif, orang tua, dan tokoh agama menjadi kunci agar nilai-nilai yang ditanamkan dapat tertanam kuat dalam diri anak.

“Pembangunan Luwu Timur tidak hanya tentang jalan dan gedung, tetapi juga mempersiapkan manusia unggul untuk masa depan. Jika dari masjid anak-anak belajar disiplin dan kebaikan, di situlah Pejuang Subuh menemukan makna sesungguhnya,” pungkas Hj. Prima Eyza Purnama.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *